Surabaya, Jurnal Hukum Investigasi
Masjid Muhammad Cheng Hoo Surabaya — Suasana khusyuk dan penuh keberkahan menyelimuti pelaksanaan Sholat Tarawih pada Rabu malam, 25 Februari 2026. Ratusan jamaah memadati masjid bernuansa Tionghoa-Islam tersebut, datang dengan satu harapan: meraih ridha Allah di bulan suci Ramadhan.
Sholat Tarawih dipimpin dengan tartil dan penuh penghayatan oleh Imam, Al Ustadz Qomarudin Ahmad, S.H.I. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang menggema di dalam masjid menghadirkan ketenangan, seolah menjadi penyejuk hati di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia.
Usai sholat, tausiyah disampaikan oleh Al Ustadz Ahmad Syauqi, S.Hum., M.Si dengan tema yang menggugah, “Hidup Kaya Raya, Mati Masuk Surga.” Dalam ceramahnya, beliau mengajak jamaah untuk meluruskan pemahaman tentang kekayaan. Bahwa kaya bukan sekadar berlimpah harta, namun kaya hati, kaya syukur, dan kaya amal sholeh.
Beliau menegaskan bahwa Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya, bahkan mendorong untuk bekerja keras dan sukses. Namun, kekayaan sejati adalah ketika harta menjadi jalan menuju kebaikan, bukan menjadi penghalang menuju surga. “Jadilah orang kaya yang dermawan, yang hartanya mengalir untuk membantu sesama, yang sujudnya semakin lama ketika nikmat bertambah,” tutur beliau, disambut anggukan haru para jamaah.
Ta’mir Masjid, Al Ustadz Hariyono Ong, S.H.I., M.E.I., turut menyampaikan harapannya agar Ramadhan tahun ini menjadi momentum memperbaiki diri, memperkuat ukhuwah, dan memperbanyak amal ibadah. Beliau juga mengajak seluruh jamaah untuk terus memakmurkan masjid dengan kegiatan-kegiatan positif yang membawa keberkahan bagi umat.
Malam itu, bukan sekadar rangkaian ibadah yang terlaksana. Lebih dari itu, ada pesan yang tertanam dalam hati: bahwa dunia dan akhirat bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Dengan niat yang lurus, kerja keras, dan hati yang selalu terhubung kepada Allah, seorang hamba dapat meraih keberkahan dunia tanpa kehilangan tiket menuju surga.
Ramadhan kembali mengingatkan, bahwa hidup bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa besar yang kita syukuri dan seberapa tulus yang kita bagi.
(Moch Arifin)


